BAB
I
Pendahuluan
A.
Latar belakang
Perkembanagan
dan kemajuan jaman yang semakin cepat meluas,memaksa pendidik di indonesia
untuk lebih kreatif dan inovatif Dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
Maka dari itu penggunaan alat bantu (media) akan memperlancar dan mempermudah
proses belajar mengajar yang akan dilaksanakan. Hal ini juga berlaku terhadap
konselor, kenselor juga harus mempunyai skill ilmu pengetahuan teknologi dan
informasi agar lebih memudahkannya dalam proses bimbingan dan konseling. Dengan
memiliki kemampuan pengetahuan atas teknologi dan komunikasi diharapkan
konselor agar dapat lebih mengoptimalkan proses bimbingan dan konseling
sehingga mampu melaksanakan tugasnya sebagai konselor menjadi lebih optimal dan
efektif.
B.
Rumusan masalah
1. Mengapa
teknologi dan informasi dalam BK diperlukan ?
2. Apa fungsi dan peranan teknologi dan
informasi dalam BK ?
3. Madia apa saja dalam bimbingan dan konseling ?
C.
Tujuan
penulisan
1. Agar mengetahui pentingnya Teknologi dan Informasi dalam BK
2. Agar mengetahui fungsi dan peranan teknologi dan informasi dalam
bimbingan dan konseling
3. Agar mengetahui media apa saja yang diperlukan dalam bimbingan dan
konseling.
BAB
II
Pembahasan
A. Teknologi
dan informasi
1. Teknologi
dan informasi dalam dunia pendidikan
Dunia telah
berubah. Dewasa ini kita hidup dalam era informasi/global. Dalam era informasi,
kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan terjadinya
pertukaran informasi yang cepat tanpa terhambat oleh batas ruang dan waktu
(Dryden & Voss, 1999). Berbeda dengan era agraris dan industri, kemajuan
suatu bangsa dalam era informasi sangat tergantung pada kemampuan masyarakatnya
dalam memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan produktifitas. Karakteristik
masyarakat seperti ini dikenal dengan istilah masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based
society). Siapa
yang menguasai pengetahuan maka ia akan mampu bersaing dalam era global.
Oleh karena
itu, setiap negara berlomba untuk mengintegrasikan media, termasuk teknologi
informasi dan komunikasi untuk semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegaranya
untuk untuk membangun dan membudayakan masyarakat berbasis
pengetahuan agar dapat bersaing dalam era global.
Bimbingan
dan Konseling sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu (siswa),
dilaksanakan melalui berbagai macam layanan. Layanan tersebut saat ini, pada
saat jaman semakin berkembang, tidak hanya dapat dilakukan
dengan tatap muka secara langsung, tapi juga bisa dengan memanfaatkan media
atau teknologi informasi yang ada. Tujuannya adalah tetap memberikan bimbingan
dan konsling dengan cara-cara yang lebih menarik,interaktif, dan tidak terbatas
tempat, tetapi juga tetap memperhatikan azas-azas dan kode etik dalam bimbingan
dan konseling.
2.
Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling
Pada masa
sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun, dalam prakteknya masih
ditemukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung
bersifat klinis-therapeutis atau menggunakan pendekatankuratif,
yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang bermasalah saja. Padahal
kenyataan di sekolah jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku
menyimpang mungkin hanya satu atau dua orang saja. Peserta didik
yang tidak memiliki masalah kerapkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan
dan konseling. Akibatnya, bimbingan dan konseling memiliki citra buruk dan
sering dipersepsi keliru oleh peserta didik, guru bahkan kepala sekolah. Ada
anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”, tempat
menangkap, merazia, dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan
indisipliner. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan konseling sebagai “keranjang
sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta didik, seperti
peserta didik yang bolos, terlambat SPP, berkelahi, bodoh, menentang guru
dan sebagainya. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan
diatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu
diselesaikan oleh guru pembimbing.
Mengingat
keadaan seperti itu, kiranya perlu adanya orientasi
baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan
pendekatan preventif. Dalam hal ini, Sofyan. S. Willis
(2004) mengemukakan landasan-landasan filosofis dari orientasi baru
bimbingan dan konseling, yaitu :
1. Pedagogis;
artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta
didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik.
2. Potensial,
artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk
dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya
sendiri.
3. Humanistik-religius,
artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan
ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri
dan potensinya.
4. Profesional,
yaitu proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas
dasar filosofis, teoritis, yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi
teknik bimbingan dan konseling.
Dengan
adanya orientasi baru ini, bukan berarti upaya-upaya bimbingan dan
konseling yang bersifat klinis ditiadakan, tetapi upaya pemberian layanan
bimbingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat
pengembangan dan pencegahan. Dengan demikian, kehadiran bimbingan dan konseling
di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik, tidak
hanya bagi peserta didik yang bermasalah saja.
B. Fungsi
dan peranan teknologi informasi dalam
Bimbingan dan Konseling
1.
Fungsi Teknologi Informasi
dalam Bimbingan Konseling
Teknologi
informasi dalam bimbingan konseling memiliki beberapa fungsi, terutama komputer
dan internet. Diantaranya:
a) Mempermudah konselor dalam menyusun,
mencari dan juga mengolah data.
b) Menjaga kerahasiaan suatu data,
karena dengan teknologi memungkinkan untuk menguncinya dan tidak sembarang
orang dapat mengaksesnya.
c) Membantu individu maupun kelompok
untuk dapat berkomunikasi dengan lebih mudah dan relatif murah dalam
pelaksanaan konseling.
d) Memberikan kesempatan kepada
individu untuk berkomunikasi lebih baik dengan menggunakan informasi yang
mereka terima tanpa perlu bertemu secara fisik.
e) Menjadikan teknologi informasi
sebagai alat dalam suatu program kegiatan, sehingga kegiatan tersebut lebih
teratur dan terstruktur.
2.
Peranan Teknologi Informasi
dalam Bimbingan Konseling
Seperti kita
ketahui bahwa saat ini bimbingan konseling belum dikatakan materi, sehingga
tidak semua sekolah di Indonesia memberikan jam yang cukup untuk materi
bimbingan konseing ini, karena berbagai alasan. Dengan demikian apakah dengan
tidak tersedianya waktu yang cukup peran guru bimbingan konseling akan
berhasil? Siapapun pasti akan menjawab tidak. Dengan argumen apapun jika waktu
yang tersedia tidak cukup atau tidak sesuai seperti yang diharapkan, maka
jangan harap apa yang disampaikan bisa mengenai sasarannya. Oleh karena itu
peranan teknologi informasi bisa menjawab kekurangan waktu tersebut. Aplikasi
teknologi informasi dalam bimbingan konseling adalah memberikan informasi kepada
klien tentang apa yang hdibutuhkannya.
Selain itu, sarana yang diberikan oleh teknologi informasi itu sendiri,
memungkinkan antar pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau
kelompok lainnya dapat bertukar pikiran. Teknologi informasi pun dapat meningkatkan
kinerja dan memungnkinkan berbagai kegiatan untuk dilaksanakan dengan cepat,
tepat dan akurat, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja
konselor itu sendiri.
Penggunaan
teknologi informasi khususnya komputer kini sudah menjadi mata pelajaran wajib
di sekolah-sekolah, mulai sekolah dasar hingga ke sekolah lanjutan atas dan
sekolah kejuruan. Namun demikian yang paling besar pengaruhnya adalah di
Perguruan Tinggi, di mana hampir semua perguruan tinggi di Indonesia sudah
memanfaatkan teknologi ini dalam perkuliahannya, baik melalui tatap muka maupun
secara pnline. Sebagai contoh seorang dosen dalam menyampaikan materinya tidak
hanya mengandalkan media konvensional saja, melainkan sudah menggunakan unsur
teknologi di dalamnya. Biasanya seorang dosen atau guru di PT tertentu dalam
menyampaikan materi kuliah ditampilkan dalam bentuk slide presentasi dengan
bantuan komputer. Dengan teknologi ini mahasiswa atau siswa bisa mengikuti
matakuliah dengan baik, karena materi yang disampaikan selain mengandung materi
yang berbobot juga mengandung unsur multimedia yang bisa menghibur. Di
mana dengan bantuan komputer yang dihubungkan dengan multimedia projector
seorang dosen tidak perlu menekan tombol keyboard atau papan ketik melainkan
cukup menekan remote control yang dipegangnya.
C. MEDIA (TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI)
1.
Pengertian Media
Istilah
media berasal dari bahasa latin, yaitu medium yang memiliki arti perantara.
Dalam Dictionary of Education, disebutkan bahwa media adalah bentuk perantara
dalam berbagai jenis kegiatan berkomunikasi. Sebagai perantara, maka media ini
dapat berupa koran, radio, televisi bahkan komputer. Gagne (dalam Sadiman, dkk,
2002) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan
siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Lebih lanjut, Briggs (dalam
Sadiman, dkk, 2002) menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat
menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
Definisi tersebut mengarahkan kita untuk menarik suatu simpulan bahwa media adalah segala jenis (benda) perantara yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada orang yang membutuhkan informasi.
Definisi tersebut mengarahkan kita untuk menarik suatu simpulan bahwa media adalah segala jenis (benda) perantara yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada orang yang membutuhkan informasi.
Lebih
lanjut, dalam proses pembelajaran dikenal pula istilah media pembelajaran.
Suyitno (1997) menyatakan bahwa media pembelajaran adalah suatu peralatan baik
berupa perangkat lunak maupun perangkat keras yang berfungsi sebagai belajar
dan alat bantu mengajar. Sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, maka
media belajar ini akan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing bahan
ajar yang akan disajikan juga memperhatikan karakteristik siswa.
2.
Jenis-Jenis Media
Saat ini,
dengan cepatnya teknologi komunikasi maka semakin banyak pula media komunikasi
yang muncul. Pada pembahasan ini, media komunikasi yang dimaksud adalah media
untuk membantu pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Beberapa media
yang dimaksud adalah komputer (internet), peralatan audio seperti tape recorder
dan peralatan visual seperti VCD/DVD.
a) Komputer
Perkembangan
perangkat komputer saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hampir setiap
bulan muncul genre-genre baru dalam dunia komputer. Sebagai contoh adalah
perkembangan prosessor sebagai otak dalam sebuah komputer mulai dari Intel
Pentium 1 sampai dengan Pentium 4. Sebagian orang belum bisa menikmati kecanggihan Prosesor Pentium 4, saat ini sudah muncul Centrino bahkan
Centrino Duo Core. Belum lagi sebagian orang berpikir kehebatan Centrino Duo
Core, telah muncul pula AMD 690.
Pesatnya
perkembangan teknologi komputer ini memang sebagai jawaban untuk akses data
atau informasi. Perubahan di masyarakat yang semakin cepat pada akhirnya
menuntut perkembangan teknologi komputer yang semakin canggih. Saat ini
dibutuhkan akses data yang cepat,
sehingga pada akhirnya prosesor yang ada juga semakin cepat
b) Peralatan Audio
Perkembangan
peralatan audio saat ini juga mengalami perkembangan yang pesat. Peralatan
audio yang di pergunakan dalam proses bimbingan dan konseling seperti tape
recorder. Penggunaan tape recorder ini antara lain adalah untuk merekam sesi
konseling dan memutar kembali hasil-hasil yang diperoleh selama sesi konseling.
Tape recorder membutuhkan kaset untuk bisa melakukan tindakan perekaman. Kaset memiliki pita magnetik yang berfungsi untuk menyimpan data atau informasi percakapan.
Tape recorder membutuhkan kaset untuk bisa melakukan tindakan perekaman. Kaset memiliki pita magnetik yang berfungsi untuk menyimpan data atau informasi percakapan.
Saat ini telah
berkembang alat perekam yang tidak membutuhkan pita perekam. Alat ini disebut
MP3 dan MP4. Pada dasarnya alat ini berfungsi sebagai player, dimana di dalam alat ini terdapat sebuah mini harddisk
yang memiliki kapasitas sampai dengan 4 Gb. Sebagai sebuah player, maka alat
ini dapat memainkan musik dan dapat dipergunakan untuk merekam suara.
Ukuran MP3 dan
MP4 saat ini amat kecil jika dibandingkan dengan sebuah mini tape recorder
biasa. Seringkali kita jumpai, alat MP3 atau MP4 seukuran sebuah spidol atau ballpoint.
c) Peralatan Visual
Alat visual
dapat bermacam-macam ragamnya seperti video player dan VCD/DVD player. Pada
awalnya, penggunaan peralatan visual adalah dengan mempergunakan projector.
Penggunaan proyektor ini dipandang tidak efisien, karena dalam proses
produksinya membutuhkan tahapan-tahapan yang panjang. Mulai dari merekam gambar
sampai dengan menampilkan gambar. Bahkan seringkali dijumpai mutu gambar yang tidak bagus dan bahkan
mudah rusak. Sehingga lambat laun peralatan ini mulai ditinggalkan.
Video player
dulu merupakan peralatan yang lumayan banyak dipergunakan orang. Hanya saja,
saat ini sudah banyak ditinggalkan karena proses produksinya tertalu berbelit. Untuk
menghasilkan sebuah hasil rekaman yang baik, dibutuhkan kamera perekam yang
lumayan besar dan berat, selain itu kaset yang dipergunakan juga relatif besar,
sehingga dipandang tidak praktis. Terlebih, hasil rekaman seringkali tidak
begitu jernih.
Peralatan
visual yang sering kita jumpai antara lain adalah video player atau CD player.
Peralatan ini banyak dijumpai karena memiliki tingkat pengoperasian yang mudah
dan memiliki harga yang relatif murah. Penggunaan video player ini tidak akan bisa lepas dari keberadaan
sebuah disc atau keping VCD/DVD. Dengan kecanggihan teknologi yang ada saat ini,
proses perekaman gambar tidak perlu mempergunakan perangkat yang
bermacam-macam. Saat ini telah berkembang alat perekam (handycam) yang secara
langsung dapat merekam gambar langsung ke dalam keping VCD/DVD. Dengan kata
lain, pengoperasian VCD/DVD ke player akan semakin mudah.
Perkembangan
teknologi informasi saat ini, pada akhirnya bertujuan untuk memudahkan konsumen menikmati hiburan antau informasi
dengan efisien. Hal ini pada akhirnya memunculkan perangkat-perangkat multi
media. Teknologi multi media yang berkembang saat ini sudah demikian
canggihnya, sehingga sehingga seringkali konsumen bingun untuk memilih
teknologi apa yang akan dibeli.
Saat ini peralatan komputer yang dijumpai di pasaran pun sudah mempergunakan teknologi multi media. Dulu, komputer hanya dipergunakan sebagai alat pengolah data saja. Tetapi selanjutnya berkembang juga sebagai alat entertainment. Komputer saat ini hampir bisa dipergunakan untuk membantu segala macam permasalahan manusia, mulai dari mengolah data sampai dengan memproduksi sebuah tayangan video yang baik.
Saat ini peralatan komputer yang dijumpai di pasaran pun sudah mempergunakan teknologi multi media. Dulu, komputer hanya dipergunakan sebagai alat pengolah data saja. Tetapi selanjutnya berkembang juga sebagai alat entertainment. Komputer saat ini hampir bisa dipergunakan untuk membantu segala macam permasalahan manusia, mulai dari mengolah data sampai dengan memproduksi sebuah tayangan video yang baik.
d) Media online (internet)
Mengikuti perkembangan jaman penggunaan media online (internet) juga turut
berperan serta membantu proses berjalannya bimbingan dan konseling agar lebih
lancar. Contohnya
1) Jejaring sosial “Facebook”, dengan turut menggunakan facebook maka kemungkinan
konselor dapat lebih mengakrabkan diri terhadap peserta didik menjadi lebih
mudah. Karaena pada saat ini telah terbukti bahawa banyak peserta didik yang
kerap menggunakan media ini untuk mengekspresikan dirinya.
2)
Internet
searching “google”, dengan menggunakan media ini konselor dapat mencari tahu
atau memperoleh informasi yang diperlukan berkaiatan dengan tugasnya sebagai
seorang konselor.
S.Nasution
(1982) dalam Danim (2008) " pada
hakikatnya teknologi pendidikan adalah suatu pendekatan yang sistematis dan kritis tentang
pendidikan. Teknologi pendidikan memandang soal mengajar dan belajar sebagai
suatu masalah atau problema yang harus dihadapi secara rasional dan
ilmiah". Oleh karena itu yang paling penting dalam rangka kegiatan belajar
mengajar,tidak semata - mata media teknologi komunikasi yang rumit dan
kompleks.
3.
Kerugian Penggunaan Media
dalam Konseling
Pelling (2002) menyatakan bahwa, walaupun saat ini masyarakat sangat tergantung
pada teknologi, tetapi di lain pihak, masih banyak diantara kita yang mengalami
ketakutan untuk mempergunakan teknologi.
Tidak dapat
dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat kita masih percaya bahwa pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh orang tua atau orang yang dituakan masih dianggap
lebih baik. Hal ini tidak lepas dari budaya paternalistik yang melingkupi
masyarakat kita.
Sebaik
apapun teknologi yang berkembang, tetapi jika pola pikir masyarakat masih
terkungkung dengan nilai-nilai yang diyakini benar, maka data atau informasi
yang didapat seakan-akan menjadi tidak berguna. Sebagai contoh, seorang siswa
akan memilih jurusan di perguruan tinggi. Mungkin mereka akan mencari informasi
sebanyak mungkin, dan konselor akan memfasilitasi keinginan mereka. Tetapi,
pada saat mereka dihadapkan untuk menentukan dan memilih jurusan yang akan
diambil, maka tidak jarang dari mereka akan berkata, “Saya senang dengan
jurusan A, tetapi nanti tergantung pada orang tua saya”.
Contoh lain,
saat ini perkembangan teknologi sudah berkembang dengan demikian pesat. Tiap manusia dapat berkomunikasi tanpa dibatasi rentang ruang dan waktu.
Tetapi dalam budaya tertentu, alat komunikasi ini bisa menjadi “tidak
bermanfaat”. Restu orang tua merupakan hal yang dianggap sakral oleh sebagian
budaya tertentu, bahkan meminta restu ini akan lebih afdol jika dilakukan
dengan melakukan sungkem. Untuk menunjukkan perilaku ini, maka seringkali
mereka melupakan kecanggihan piranti komunikasi yang sudah canggih, walau jarak
yang ditempuh untuk mendatangi orang tua relatif jauh.
Hal lain yang terkait dengan penggunaan media dalam bimbingan dan konseling
adalah sasaran pengguna seringkali disamakan. Walaupun ragam media sudah bermacam-macam,
tetapi media ini seringkali masih belum bisa menyentuh sisi afektif seseorang.
Dalam bimbingan dan konseling dikenal istilah empati. Penggunaan media,
seringkali pula akan “menghilangkan” empati konselor, jika konselor
mempergunakan media sebagai alat bantu utama.
Klien datang ke ruang konseling tidak selalu membutuhkan informasi dari
internet atau komputer, bahkan ada kemungkinan klien atau siswa datang ke ruang
konseling juga tidak membutuhkan bantuan dari konselor secara langsung melalui proses
konseling. Tetapi adakalanya, siswa atau klien datang ke ruang konseling hanya
ingin mendapatkan senyuman dari konselor atau penerimaan tanpa syarat dari
konselor.
BAB III
Penutup
Kesimpulan
Dalam era
informasi, kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan
terjadinya pertukaran informasi yang cepat tanpa terhambat oleh batas ruang dan
waktu (Dryden & Voss, 1999). Berbeda dengan era agraris dan industri,
kemajuan suatu bangsa dalam era informasi sangat tergantung pada kemampuan
masyarakatnya dalam memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan produktifitas.
Karakteristik masyarakat seperti ini dikenal dengan istilah masyarakat berbasis
pengetahuan (knowledge-based society). Siapa
yang menguasai pengetahuan maka ia akan mampu bersaing dalam era global.
Pada masa
sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun, dalam prakteknya masih
ditemukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung
bersifat klinis-therapeutis atau menggunakan pendekatankuratif,
yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang bermasalah saja. Padahal
kenyataan di sekolah jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku
menyimpang mungkin hanya satu atau dua orang saja.
Mengingat
keadaan seperti itu, kiranya perlu adanya orientasi
baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan
pendekatan preventif. Dengan menggunakan alat bantu
seperti media teknologi dan informasi akan mempermudah konselor untuk
melaksanakan tugasnya yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan
pendekatan preventif, dan
bukan hanya menjadi polisi sekolah.
Akan tetapi, peralatan teknologi yang ada saat
ini hanya bisa bermanfaat jika dimanfaatkan oleh mereka yang memahami
penggunaan masing-masing alat tersebut. Artinya penggunaan teknologi ini akan
memunculkan efek yang baik jika dijalankan oleh mereka yang paham peralatan
tersebut. Sebaliknya, peralatan ini akan memberikan dampak negatif jika
pelaksananya tidak memahami dampak yang akan ditimbulkan. Banyak contoh kasus
dampak negatif penyalahgunaan teknologi informasi seperti beredarnya rekaman
video porno di ponsel, beredarnya video porno bajakan yang dilakukan oleh anak
negeri dan lain sebagainya.
Saran